Kegiatan


Cara Melihat Aceh: Energi Konflik, Kemelut Politik dan Upaya Bangkit

Tulisan ini mencoba mengurai cara melihat Aceh. Sebagai upaya korektif dan reflektif, atas perubahan sosial politik di Aceh dewasa ini. [Dr. Mukhlisuddin Ilyas, M. Pd, Kabid Penelitian dan Pengkajian FKPT Aceh]

Fokus penting dari perubahan Aceh sebenarnya adalah ekonominya harus bangkit, warganya harus sejahtera. Mewujudkan itu semua, Aceh perlu dibangun dengan rasa humanisme dan solidaritas tinggi. Di balik upaya itu, terdapat pengalaman empiris, yang belum selesai cara melihat Aceh. Terutama cara memajukan, cara Aceh berdaya saing dan sejahtera warganya. Untuk itu, terdapat dua cara melihat, yang bisa saja berakibat Aceh berjalan statis.

Cara pertama adalah orang Aceh melihat Jakarta (baca: Pemerintah Pusat). Situasi aktual alias terkini, mengenai kemiskinan, pendidikan dan investasi yang minim, serta carut marut tata kelola dana otonomi khusus. Tidak pernah terdengar pengakuan birokratis, bahwa elit Aceh “salah” mengelola Nangrroe paska-MoU Helsinki.

Bila ditelusuri secara struktural dan kultural masyarakatnya, apapun persoalan yang terjadi di Aceh, terutama yang menyangkut “kegagalan” Aceh, semuanya bersumbu “Karena Jakarta”. Jakarta, menjadi kata sakti, dan pesakitan dalam setiap peristiwa dan kegagalan. Lebih dari itu, sejumlah kata seperti “skenario’, “konspirasi” sangat akrab dengan memori orang Aceh.

Begitu juga dengan kegagalan komunikasi politik elit lokal di Aceh, tidak kemudian diselesaikan pada level lokal, dengan melibatkan tokoh-tokoh yang dituakan. Melainkan dibawa ke Jakarta. Bila Jakarta “merundingkan” keduanya, maka Jakarta tetap akan penjadi biang kesalahan, atas kegagalan Aceh. Ketertinggalan Aceh, yang ditampilkan berdasarkan data ilmiah sekalipun, supaya dapat melahirkan obat penanganannya, menjadi tak bermakna dan penuh kecurigaan, apabila data-data ilmiah itu “produksi” dari Jakarta.

Cara kedua adalah orang Jakarta melihat Aceh. Cara pandang mereka di Jakarta, baik yang berada dalam struktur pemerintah maupun non-pemerintah. Berdasarkan interaksi dan refleksi yang dilakukan secara terstruktur, dapat disimpulkan bahwa akibat kemunduran dan kegagalan perekonomiaan Aceh, orang Aceh yang “salah”. Orang Aceh menjadi pesakitan dalam beragam sebab akibat.

Terdapat banyak varian dan indikator yang menyebabkan orang Aceh “salah”, dalam cara orang Jakarta melihat Aceh. Perdamaian, dana Otsus melimpah, pendidikan dan kewenangan pemberlakuaan Syariat Islam, memiliki potensi menjadi Aceh maju. Tapi faktanya kemiskinan dan kesejahteran masyarakat Aceh terus terpuruk. Titik sentralnya, terletak pada perilaku orang Aceh, tidak terkecuali dengan posisi ilmuwan sekalipun. Pada beberapa kasus, keberadaan kampus sekalipun tidak lagi menjadi pencerah.

Menurut mereka, baik orang Aceh yang berada di Jakarta, maupun etnis lain yang bersimpati dengan Aceh di Jakarta. Memberi isyarat, bahwa kemiskinan, minimnya investasi, kegagalan pendidikan, dan simbolisme syariat Islam disebabkan karena perilaku elit Aceh. Padahal, kemampuan dan perilaku elit sangat menentukan kesuksesan sebuah daerah.

Menurut World Economic Forum, dalam Future of Jobs Report, menyebutkan bahwa terdapat 10 ketrampilan utama yang harus dimiliki untuk dapat berkompetisi pada tahun 2020 dan tahun-tahun seterusnya. Diantara kompetensi yang harus dimiliki oleh semua orang adalah pemecahan masalah yang komplek (complex problem solving), mampu berkoordinasi dengan orang lain (coordination with other), mampu melakukan negosiasi dengan baik (negotiation), dan kelenturan berfikir (cognitive flexibility).

Terlepas cara melihat Aceh berbeda-beda. Perbedaan cara pandang, harus direspon dengan energi yang positif. Ini menjadi teguran bagi semua elit Aceh, terutama eksekutif, DPRA dan tokoh-tokoh Aceh di Jakarta. Supaya menjadi agen menyampaikan informasi yang valid dan terus bekerjasama supaya Aceh keluar dari zona keprihatinan. Bukan momentumnya lagi, bernyanyi dengan lagu warna-warni.

 

Sumbatan Komunikasi

Di balik analisis cara melihat Aceh. Diakui atau tidak, terdapat sumbatan komunikasi politik, kemampuan berkoordinasi, negosiasi antar-elit dan kelenturan berpikir elit untuk kemajuan Aceh perlu diaplikasi. Bukan hanya menjadi pelajaran di ruang-ruang pendidikan. Kearifan-kearifan yang ada di Aceh, harusnya menjadi alat menyelesaikan kemelut yang muncul.

Eksistensi Aceh, memiliki potensi untuk dibawa pada arus kebanggaan bersama. Terutama kebanggaan secara ekonomi. Caranya adalah, menyelesaikan sumbatan-sumbatan komunikasi politik antara elit Aceh dan Aceh dengan Jakarta. Sumbatan ini harus diselesaikan dengan basis kejujuran dan keikhlasan dari anasir-anasir jahat. Peluang memajukan Aceh selalu terbuka, jika semua unsur solid.

Sesungguhnya, baik orang Aceh yang berada di Serambi Mekkah, maupun etnis Aceh dan etnis lainnya yang berada di Jakarta, sangat bersimpati dengan Aceh, terutama untuk kemandirian ekonomi. Menjadi kebanggaan “true story” dari tata kelola dana otonomi untuk negeri ini. Perbedaan cara pandang, seperti misalnya pelaksanaan cambuk di depan publik atau cambuk dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), harus mampu dilihat lebih produktif secara politik ekonomi dan subtansi syar’i.

Sudah layaknya, eksekutif dan legislatif membangun imej baru. Supaya pandangan yang sama antara orang Aceh tentang Jakarta atau orang Jakarta tentang Aceh, dapat menyatu dan memberi nilai tambah bagi Aceh dalam suasana pandemi COVID-19.

Imej keberadaan sebagian elit Aceh di Jakarta sebagai orang cerdas tapi sombong, keras kepala, negosiasi tidak elegan dalam pertemuan antar kementerian, harus direspon dengan emosi positif sebagai ujian bagi elit politik untuk mempercepat pembangunan Aceh. Sudah saatnya, seperti dikatakan Profesor Yusny Saby, orang Aceh mampu menunjukkan kepada dunia bisa berdamai dengan orang lain, dan saatnya sekarang belajar berdamai dengan sesama Aceh.

Mengakui atau tidak, bila cara melihat Aceh seperti ini terus dipertahankan, sumbatan-sumbatan tidak dijajaki perbaikan, akan sulit membangun Aceh hebat. Apalagi kita sedang berada pada era milenial dan wabah COVID-19. Kemampuan-kemampuan software yang bersifat pengetahuaan (knowledge) harus /bisa diaplikasi. Pengetahuan dan keikhlasan menjadi aset utama mengubah Aceh.

Saatnya kembali menyadarkan diri sendiri, kelompok agamawan, kelompok sosial dan kelompok politik di Aceh dan Jakarta secara bersama-sama. Energi periode konflik, seperti ‘menye ken awak kee, mandum awak gob’, harus ditinggalkan. Kalau tidak, azab Allah untuk orang-orang yang sombong, angkuh, nirpengetahuan dan tidak mengakui kelemahannya dalam bernegara, sangat besar. Akan datang masanya kemudharatan yang lebih parah. Nauzubillah!

 

Artikel ini sebelumnya telah di muat pada kumparan.com/acehkini (https://kumparan.com/acehkini/cara-melihat-aceh-energi-konflik-kemelut-politik-dan-upaya-bangkit-1tNe3b1baBn/full)

Penulis: Dr. Mukhlisuddin Ilyas, M. Pd, selain Kabid Penelitian dan Pengkajian pada FKPT Aceh, juga menjabat sebagai Direktur Bandar Publishing dan Founder Yayasan Hurriah Aceh. mukhlisuddin.ilyas@gmail.com