Kegiatan


Cegah Bahaya Radikalisme dan Terorisme: Optimalkan Peran Perempuan Sebagai Agen Perdamaian

Tarakan, FKPT Aceh-Jemaah Islamiah mempersepsikan perempuan sebagai mahluk lemah dengan tugas domestik, dimana Jemaah Islamiah sendiri berpegang pada aturan perang dengan tidak melibatkan perempuan dan anak. Sedangkan Islamic State of Iraq and Suriah atau dikenal dengan ISIS melihat perempuan sebagai strategi perang. Perempuan dilihat punya tanggungjawab untuk berperang karena kondisi “darurat”. Hal itu disampaikan  Kabid Perempuan dan Anak FKPT Aceh, Suraiya Kamaruzzaman pada saat menjadi Pemateri di kegiatan Dialog Pelibatan Perempuan dalam Pencegahan Terorisme di Tarakan, Kamis (15/10/2020).

Dalam kegiatan yang diinisiasi oleh BNPT dan  Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Utara itu, Suraiya menyampaikan arah perubahan keterlibatan perempuan ekstrimisme Indonesia dari  Jemaah Islamiyah ke ISIS, bagaimana pergeseran idiologi di internal kelompok afiliasi dengan ISIS yang mempengaruhi peran-peran yang dilakoni perempuan dalam gerakan terorisme.

Pada Kesempatan yang sama, Kepala Subdirektorat Pemberdayaan, Masyarakat BNPT, Andi Intang Dulung, menyebut keberadaan kaum perempuan yang cerdas dalam sebuah keluarga menjadi sebuah keniscayaan untuk bisa menciptakan suasana damai. Oleh karena itu peningkatan kapasitas perempuan tak boleh putus dilakukan.

"Atas nama BNPT kami minta pemerintah daerah untuk meningkatkan jalinan kerjasama dengan semua simpul organisasi perempuan. Mari bersama-sama kita dorong peningkatan kapasitas perempuan," Sebut Andi.

Tak Hanya Itu, Wakil Walikota Tarakan, Efendi Djuprianto, S.H pada kegiatan yang sama juga sepakat dengan dorongan BNPT untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam pencegahan terorisme. Pemerintah Kota Tarakan telah menetapkan visi menjadi kota yang sejahtera lewat program smart city, yang untuk mencapainya membutuhkan dukungan semua pihak.

"Termasuk kaum ibu-ibu, kami sangat butuhkan dukungannya. Oleh karena itu kami berkomitmen mendukung segala kegiatan positif yang mampu meningkatkan kapasitas perempuan," tegas Efendi.

Kegiatan Dialog Pelibatan Perempuan dalam Pencegahan Terorisme di Tarakan ini turut melibatkan 90 (sembilan puluh) orang peserta dari 37 (tiga puluh tujuh) organisasi perempuan yang ada di Tarakan, serta menghadirkan pula Muspika setempat pada saat pembukaan kegiatan berlangsung.

Suraiya menambahkan, kegiatan dialog seperti ini menjadi bagian kontribusi BNPT dan FKPT untuk mengisi ruang-ruang pemahaman terhadap perempuan terhadap bahaya radikalisme dan terorisme, serta pemahaman akan peran-peran yang dapat dioptimalkan oleh perempuan sebagai agen perdamaian untuk mencegah radikalisme menuju terorisme. Tutupnya. (MD)