Kegiatan


Hoaks Syariah

Oleh ARIF RAMDAN, Dosen Pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
 
Dua bulan terakhir narasi jejaring sosial media kita disesaki informasi mewabahnya virus Corona di Cina. Mulai dari format berita hingga teks bergambar dan video tersebar tanpa batas, informasi terkini dari negeri Tirai Bambu itu dapat dengan mudah sampai ke tangan kita tanpa diminta sekalipun, termasuk informasi keberadaan mahasiswa Aceh di Wuhan saat virus mematikan itu menyeruak menghentak dunia. Kita pun cemas!
 
Diskusi-diskusi terkait virus Corona mengalir tanpa jeda, analisis kekinian tentang Cina dan kekhawatiran warga dunia akan virus tersebut diulas tanpa batas. Muncul `ahli-ahli' kesehatan di dunia maya yang meramu jurus jitu menghalau agar virus itu tak mengenai kita, mulai dari ala tradisional dengan bahan dasar bawang putih, amaran kementerian kesehatan, hingga tips berbau agama pun tak ketinggalan memberi cara bagaimana mengantisipasi virus yang sangat tersebut.
 
Sebagai bagian dari bangsa dunia yang hidup di era digital, kita tentu saja tidak dapat mengelak dari paparan informasi liar setiap harinya. Jika sebelum kehadiran teknologi internet, kita berperan sebagai pihak yang meminta informasi itu hadir, kini kita berada pada posisi sebagai pihak yang dibanjiri informasi gratis melalui sosial media, cukup dengan satu kali sentuhan klik maka jagat informasi tanpa batas pun terbuka lebar.
 
Gencarnya pemberitaan Virus Corona juga telah melahirkan analisis di luar fakta sesungguhnya yang terjadi di Cina. Kita disuguhi ulasan para ahli kenapa virus itu hadir di Cina, bahkan yang mengejutkan adalah viralnya video serbuan burung gagak dalam jumlah banyak bergerak menuju daratan Cina yang siap memangsa rakyat Presiden Xi Jinping tersebut.
 
Akibat terpaan informasi itu, kita dibuat penasaran dan bahkan menerima dengan mentah informasi itu sebagai sebuah kebenaran. Kita juga `dipaksa' meyakini bahwa Cina pantas menerima wabah ini sebagai balasan atas sikap bebal mereka di dunia saat ini, melebihi Amerika yang membiarkan Israel berpuluh tahun lamanya melakukan genoside atas bangsa Palestina dan menempati tanah suci ketiga umat Islam secara ilegal.
 
Menempati posisi teratas sebagai media sosial paling banyak diakses manusia di dunia, WhatsApp beraktivitas cukup tinggi dengan pesan terkirim per menit sebanyak 41,6 juta (versi survei Lori Lewis tahun 2019). WhatsApp juga termasuk aplikasi yang berperan membantu sebagian manusia, dalam menyebarkan informasi hoaks.
 
Menariknya, saat ini informasi hoaks juga beredar dengan membonceng konten agama, di antara kita bisa jadi pernah menyaksikan satu tayangan video taushiyah mengulas serbuan burung gagak ke daratan Cina. Ulasan salah satu penceramah tersebut juga mengurai dalil syar'i di atas berita yang beredar viral itu.
 
Padahal, jika dirunut dan menyidik informasi itu hingga ke hulu dari beragam sumber lain, maka didapati bahwa video serbuan burung pemangsa bangkai manusia ke Cina adalah kebohongan besar. Video itu merupakan potongan gambar yang dikombinasi dengan informasi virus Corona, aslinya merupakan burung hama di Amerika dan tidak ada kaitan dengan Cina sama sekali. Sungguh keliru jika ada penceramah berdalil atas video itu sebagai azab yang harus diterima bangsa Cina saat ini.
 
Jurnalis Tempo, Ika Ningtyas yang melakukan penelusuran digital berkait isu serangan gagak itu menemukan data sebaliknya. Seperti dilansir Tempo.co, 23 Februari 2020, video serangan gagak versi utuh berdurasi 36 detik ditemukan telah diunggah oleh kanal YouTube KHOU 11 pada 30 Januari 2020 dengan judul "Thousands of black birds-aka grackles-take over parking lot in Houston".
 
Video itu berlokasi di Meyerland, Houston, Texas, Amerika Serikat. Burung-burung hitam itu adalah jenis Grackle yang habitat aslinya di Amerika bagian utara dan selatan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan Cina!
 
Kita juga pernah menerima pesan yang berkali-kali diteruskan dengan tanda panah ganda, berkait situasi terkini di Palestina dan Jalur Gaza dengan narasi seperti ini, "Salam untuk semua kaum muslim. Palestine dikepung oleh pasukan Israel. Israel akan melakukan serangan darat ke Gaza (spt juga diberitakan RCTI pkl 16.00). Pemimpin Hizbullah, Syed Hasan Nasrallah minta semua Muslim utk dg ikhlas membaca surah al-Baqarah ayat 26-27 dan surah Yunus ayat 85,86,88 malam ini." Narasi ini adalah hoaks berbau syariah yang mengajak orang membaca kitab suci.
 
Selain itu, tidak kalah heboh adalah beredarnya video pemandangan laut dengan latar belakang suara mamalia Paus yang mengaung  petanda kiamat semakin dekat. Sebenarnya, jika kita berselancar pada situs berita dan sosial media hewan bawah laut, underwateremotion, dan pencarian pada tagar scubadiving, kita dapat dengan mudah mendengar suara-suara makhluk di dasar laut, bahkan yang belum pernah kita dengan sekalipun.
 
Mengapa informasi hoaks menemukan momentumnya di generasi yang hidup para era digital seperti sekarang ini? Pertama, manusia sebagai makhluk sosial memiliki watak ingin berbagi dan ingin sebagai orang paling peduli pada keadaaan. Reputasinya di jejaring sosial media juga menempati kedudukan luar biasa.
 
Kedua, bisa juga karena gagap, era sosial media yang begitu cepat juga membuat generasi minim pengetahuan digital tidak mau ketinggalan dan tidak ingin disebut kurang pergaulan jika tidak  berkomentar di sosial media yang ada. Ketiga, masih ada anggapan meneruskan (forward) informasi meski tanpa tabayun (cek and ricek) adalah kebaikan dan menjadi ladang pahala.
 
Kondisi seperti ini tidak dapat dibiarkan berlama-lama, informasi bohong yang membonceng nila-nilai syariah dapat merusak kesucian risalah Islam. Kita dan siapa saja yang peduli akan pemenuhan informasi sehat kepada masyarakat, wajib mengatakan `stop' dan tidak ikut menyebar informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.    
 
Agama telah mengajarkan kita berlaku hati-hati atas setiap informasi yang datang kepada kita. Tabayun atau klarifikasi adalah standar utama dalam keselamatan informasi dalam bermasyarakat. Kita diajarkan membaca sejarah bahwa akibat kabar dusta yang diembuskan kaum munafikun barisan kekuatan umat Islam juga hampir porak-poranda.
 
Ayat di bawah ini, kiranya dapat menjadi panduan kita sebagai muslim agar tidak terjebak hoaks di era informasi yang sangat tidak terkendali ini.
 
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS.Al-Hujuraat:49).
 
 
https://aceh.tribunnews.com/2020/02/26/hoaks-syariah